Saudaraku rohimaniyallohu wa
iyyakum. Dalam rubrik percikan Iman kali ini kita akan mempelajari bersama
tentang Meneladani Akhlaq As-Salafush-Sholih.
Tauhid dan keimanan yang benar pasti
akan membuahkan amal nyata. Rosululloh صلى الله عليه
وسلم bersabda:
الْإِيمَانُ
بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا
إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ
وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ
“Iman itu terdiri dari tujuh puluh
atau enam puluh lebih cabang. Yang tertinggi adalah ucapan لَا
إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
, dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu
juga termasuk cabang keimanan. ” (Hadits riwayat Al-Imam Al-Bukhori
dan Muslim dari Abu Huroirairoh رضي الله عنه , dan ini lafazh Muslim).
Rosululloh صلى
الله عليه وسلم
bersabda:
اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ
السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Alloh di mana
saja engkau berada. Dan ikutilah perbuatan dosa dengan perbuatan baik niscaya
akan menghapuskannya. Dan pergaulilah orang dengan akhlak yang baik. ”(Hadits
riwayat Al-Imam At-Tirmidzi dari Abu Dzar رضي الله عنه ).
Ibnu Rojab al-Hanbali رحمه
الله تعالى
mengatakan, “Rosululloh صلى الله عليه وسلم menyebutkan perintah berakhlak secara
terpisah, dikarenakan kebanyakan orang mengira bahwa ketakwaan itu hanya
berkutat dengan masalah pemenuhan hak-hak Alloh سبحانه وتعالى dan tidak berurusan dengan pemenuhan hak hamba-hamba-Nya…” “Dan
orang yang menunaikan hak-hak Alloh تعالى sekaligus hak-hak sesama hamba dengan baik adalah sesuatu yang
sangat jarang ditemukan, kecuali pada diri para nabi dan orang-orang yang
shidiq (benar) …” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 237)
Diriwayatkan dari Abu Huroiroh رضي
الله عنه
, beliau رضي الله عنه berkata: Rosululloh صلى الله عليه
وسلم pernah ditanya
tentang sebab paling banyak yang mengakibatkan orang masuk surga. Beliau صلى
الله عليه وسلم menjawab,
“Takwa kepada Alloh dan akhlaq mulia. ” Beliau صلى
الله عليه وسلم juga ditanya
tentang sebab paling banyak yang mengakibatkan orang masuk neraka, maka beliau صلى
الله عليه وسلم menjawab,
“Mulut dan kemaluan. ” (Hadits riwayat Al-Imam Tirmidzi).
Al-Imam An-Nawawi رحمه
الله تعالى
membuat sebuah bab khusus di dalam kitab Riyadhush
Sholihin yang berjudul Bab Husnul Khuluq (Akhlaq mulia). Maksud penyusunan
bab ini oleh beliau رحمه
الله تعالى ialah dalam
rangka memotivasi agar kita memiliki akhlak yang mulia. Di dalam bab ini beliau
رحمه
الله تعالى juga hendak
menerangkan keutamaan-keutamaannya serta siapa sajakah di antara hamba-hamba
Alloh عزوجل yang
memiliki sifat-sifat mulia itu. Husnul khuluq meliputi berakhlaq mulia kepada
Alloh سبحانه
وتعالى dan berakhlaq
mulia kepada hamba-hamba Alloh تعالى .
Berakhlaq mulia kepada Alloh سبحانه وتعالى yaitu senantiasa ridho terhadap ketetapan hukum-Nya, baik yang
berupa aturan syari’at maupun ketetapan takdir, menerimanya dengan dada yang
lapang tanpa keluh kesah, tidak berputus asa ataupun bersedih. Apabila Alloh تعالى mentaqdirkan
sesuatu yang tidak disukai menimpa seorang muslim, maka hendaknya dia ridho
terhadapnya, pasrah dan sabar dalam menghadapinya. Dia ucapkan dengan lisan dan
hatinya: رضيت بالله ربًّأ(rodhiitu billaahi Robban) ‘Aku ridho Alloh sebagai
Robb’. Apabila Alloh سبحانه
وتعالى menetapkan
keputusan hukum syar’i kepadanya maka, dia menerimanya dengan ridho dan pasrah,
tunduk patuh melaksanakan syari’at Alloh عزوجل Jalla dengan dada
yang lapang dan hati yang tenang, inilah makna berakhlak mulia terhadap Alloh عزوجل .
Saudaraku yang budiman. Adapun
berakhlak mulia kepada sesama hamba ialah dengan menempuh cara sebagaimana yang
dikatakan oleh sebagian ulama, yaitu yang tercakup dalam tiga ungkapan berikut
ini:
Yang
pertama: كَفُّ
اْلأذى (menahan diri
dari mengganggu): yaitu dengan tidak mengganggu sesama baik melalui ucapan
maupun perbuatannya. Kemudian
yang kedua: بَذْلُ
النَّدَى (memberikan
kebaikan yang dimiliki): yaitu rela memberikan apa yang dimilikinya berupa
harta atau ilmu atau kedudukan dan kebaikan lainnya. Dan yang ketiga:طَلَقَةُ
الوَجْهِ (bermuka berseri-seri, ramah): dengan cara memasang wajah
berseri apabila berjumpa dengan sesama, tidak bermuka masam atau memalingkan
pipi. Inilah husnul khuluq.
Orang yang dapat melakukan ketiga
hal ini niscaya dia juga akan bisa bersabar menghadapi gangguan yang ditimpakan
manusia kepadanya, sebab bersabar menghadapi gangguan mereka termasuk juga
husnul khuluq . Bahkan jika seorang muslim mengharapkan pahala dari Alloh سبحانه وتعالى atas kesabarannya tentulah itu akan membuahkan kebaikan di sisi
Alloh سبحانه
وتعالى .
Nah saudaraku yang budiman,
bagaimanakah berakhlak mulia kepada sesama? Di dalam sebuah ayat Alloh
telah menghimpun beberapa kunci pokok, untuk bisa meraih akhlak yang mulia
kepada sesama. Barangsiapa mempraktekkannya, niscaya akan merasakan kenikmatan
buahnya. Alloh سبحانه
وتعالى berfirman:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ
عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah
orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang
bodoh. ” (Surat al-A’roofayat 199)
Saudaraku yang budiman. Ayat yang
mulia ini telah merangkum kandungan makna-makna husnul khuluq
(akhlaq yang mulia) kepada sesama serta apa saja yang sepantasnya dilakukan
oleh seorang hamba dalam hal mu’amalah dan pergaulan hidup mereka. Alloh عزوجل memerintahkan kita untuk melakukan tiga hal: Pertama:
Menjadi pema’af. Kemudian kedua: Menyuruh orang agar mengerjakan
yang ma’ruf. Dan yang ketiga adalah:Berpaling dari orang-orang
yang bodoh.
Pengertian pema’af di sini luas.
Pemaaf mencakup segala bentuk perbuatan dan akhlak yang dapat membuat hati
mereka lapang dan memberikan kemudahan untuk orang lain. Sehingga dia tidak
membebankan perkara-perkara sulit yang tidak sesuai dengan tabi’at mereka.
Bahkan dia mampu mensyukuri (berterima kasih) terhadap apa saja yang mereka
berikan baik berwujud ucapan maupun perbuatan yang santun atau bahkan yang
lebih rendah darinya. Hal itu juga disertai dengan sikap memaklumi kekurangan
dan kelemahan yang ada pada diri orang lain. Dia tidak menyombongkan diri di
hadapan yang kecil dan yang lemah akalnya karena kelemahan-kelemahan mereka.
Begitu pula, dia tidak sombong kepada orang yang miskin disebabkan
kemiskinannya. Bahkan dia mampu berinteraksi (berhubungan) dengan semuanya
dengan lemah lembut dan melapangkan dada-dada mereka. Ia memilih sikap yang
tepat sesuai situasi dan kondisi yang ada.
Pengertian mengerjakan yang ma’ruf
adalah segala ucapan dan perbuatan yang baik, budi pekerti yang sempurna,
terhadap orang yang memiliki hubungan dekat maupun jauh. Saudaraku yang
budiman, hendaknya kita bersikap baik kepada orang lain dengan mengajarkan ilmu
yang kita miliki, menganjurkan kebaikan, menyambung tali silaturahim, berbakti
kepada kedua orang tua, mendamaikan persengketaan yang terjadi di antara
sesama, atau menyumbangkan nasihat yang bermanfaat, pendapat yang jitu,
memberikan bantuan dalam kebaikan dan ketakwaan, menghalangi terjadinya suatu
keburukan atau dengan memberikan arahan untuk meraih kebaikan diniyah (agama)
maupun duniawiyah (dunia).
Adapun yang dimaksud dengan
“Berpaling dari orang-orang yang bodoh” yaitu tidak melayani atau ikut larut
dalam kebodohan mereka. Jika mereka mengusik kita dengan kata-kata atau dengan
tindakan bodoh maka hendaknya kita menyingkir. Kita tidak perlu membalas dendam
dengan mengganggu mereka juga. Barangsiapa yang memutuskan hubungan dengan
kita, maka hendaknya kta sambung hubungan dengannya. Dan barangsiapa yang
menzhalimi kita, maka hendaknya kita berbuat adil kepadanya. Dengan cara inilah
kita akan memperoleh limpahan pahala dari Alloh عزوجل , hati menjadi tentram dan tenang, bebas dari ulah orang-orang
bodoh, bahkan dengan cara ini juga, dapat merubah orang yang semula musuh
menjadi teman.
Demikianlah pertemuan kita kali ini.
والله ولي التوفيق . نَسْأَلُ
اللهَ أَنْ يَرْزُقَنَاوَإِيَّاكُمْ الْعِلْمَ النَّافِعَ وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ
والسلام
عليكم ورحمة الله وبركاته
Saudaraku rohimaniyallohu wa
iyyakum. Dalam rubrik percikan Iman kali ini kita akan mempelajari bersama
tentang orang yang pali dekat dengan Nabi صلى الله
عليه وسلم di hari Qiyamat.
Diriwayatkan dari Jabir رضي
الله عنه
bahwa Rosululloh صلى الله عليه
وسلم bersabda,
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ
مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ
أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ قَالُوا يَا رَسُولَ
اللَّهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا
الْمُتَفَيْهِقُونَ قَالَ الْمُتَكَبِّرُونَ
“Sesungguhnya orang yang paling aku
cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku di hari
kiamat kelak adalah orang yang terbaik akhlaqnya. Dan orang yang paling aku
benci dan paling jauh dariku pada hari kiamat kelak adalah tsartsarun,
mutasyaddiqun dan mutafaihiqun. ” Sahabat berkata: “Ya Rosululloh… kami sudah
tahu arti tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa arti mutafaihiquun?” Beliau
menjawab, “Orang yang sombong. ” (Hadits riwayat Al-Imam
At-Tirmidzi. Hadits ini dishohihkan oleh Al-Albani dalam kitab Shohih Sunan
At-Tirmidzi)
Saudaraku yang budiman. Di dalam
hadits ini Rosululloh صلى الله عليه وسلم menerangkan
bahwa orang yang paling dekat dengan beliau adalah orang-orang yang paling baik
akhlaknya. Maka apabila akhlak kita semakin mulia, niscaya kedudukan kita di
hari kiamat kelak akan semakin dekat dengan beliau صلى
الله عليه وسلم
dibandingkan selain kita. Sedangkan orang yang terjauh
posisinya dari Nabi صلى الله عليه وسلم pada
hari kiamat kelak adalah tsartsarun, mutasyaddiqun dan mutafaihiqun.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih
al-’Utsaimin رحمه الله تعالى menerangkan
bahwa ma’na tsartsarun adalah orang yang banyak bicara dan suka
menyerobot pembicaraan orang lain. Apabila dia duduk ngobrol dalam suatu
majlis, dia sering menyerobot pembicaraan orang lain, sehingga seolah-olah
tidak boleh ada yang bicara dalam majlis itu selain dia. Dia berbicara, tanpa
membiarkan orang lain leluasa berkata-kata. Perbuatan seperti ini tidak
diragukan lagi termasuk kesombongan. Yang dimaksud majlis dalam konteks ini
adalah pembicaraan-pembicaraan sehari-hari bukan majlis ilmu atau pengajian.
Sebab jika suatu saat kita mendapat kesempatan untuk memberikan nasihat atau
mengisi kajian di depan mereka lalu kita sendirian yang lebih banyak berbicara
maka hal ini tidaklah mengapa. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin رحمه
الله تعالى
menerangkan bahwa makna mutasyaddiqun adalah
orang yang suka berbicara dengan gaya bicara yang meremehkan orang lain,
seolah-olah dia adalah orang paling fasih. Itu dilakukannya karena kesombongan
dan bangga diri yang berlebihan. Seperti contohnya berbicara dengan menggunakan
bahasa Arab di hadapan orang-orang awam. Sebab kebanyakan orang awam tidak
paham bahasa Arab. Seandainya kita mengajak bicara mereka dengan bahasa Arab,
maka tentulah hal itu terhitung sikap berlebihan dan memaksa-maksakan dalam
pembicaraan. Adapun jika kita sedang mengajar di hadapan para penuntut ilmu,
maka biasakanlah berbicara dengan bahasa Arab dalam rangka mendidik dan melatih
mereka agar sanggup berbicara dengan bahasa Arab. Adapun terhadap orang awam
maka tidak selayaknya kita berbicara dengan mereka dengan bahasa Arab, tetapi
hendaknya kita berbicara dengan mereka dengan bahasa yang mereka pahami, dan
jangan banyak memakai istilah-istilah asing. Artinya janganlah kita menggunakan
kata-kata asing yang sulit mereka mengerti, karena hal itu termasuk berlebihan
dan angkuh dalam pembicaraan. Saudaraku yang budiman, Asy-Syaikh Muhammad bin
Shalih al-’Utsaimin رحمه الله تعالى juga
menerangkan makna mutafaihiqun: Nabi صلى
الله عليه وسلم
telah menerangkannya yaitu orang-orang yang sombong. Orang
sombong ini bersikap angkuh di hadapan orang-orang. Jika berdiri untuk berjalan
seolah-olah dia berjalan di atas helaian daun (dengan langkah kaki yang
dibuat-buat –pent) karena adanya kesombongan di dalam dirinya. Perilaku ini
tidak diragukan lagi termasuk akhlak yang sangat tercela. Wajib bagi setiap
orang untuk menghindarinya. Karena yang namanya orang tetap saja manusia biasa,
maka hendaklah dia mengerti ukuran dirinya sendiri. Meskipun dia telah
dikaruniai sekian banyak harta, kedalaman ilmu atau kedudukan yang tinggi oleh
Alloh سبحانه
وتعالى , seyogyanya
dia merendahkan hati (tawadhu’).
Sikap tawadhu’ orang-orang yang
telah mendapat anugerah harta, ilmu, atau kedudukan tentu lebih utama nilainya
daripada tawadhu’nya orang-orang yang tidak seperti mereka. Oleh sebab itu
terdapat dalam sebuah hadits yang memberitakan orang-orang yang tidak akan
diajak bicara oleh Alloh سبحانه وتعالى dan tidak
disucikan-Nya pada hari kiamat, diantara mereka adalah:“Orang miskin yang
sombong”. Sebab orang miskin tidak mempunyai faktor pendorong (modal) untuk
sombong…. Sudah semestinya orang-orang yang diberi anugerah nikmat oleh Alloh سبحانه وتعالى semakin meningkatkan syukurnya kepada Alloh سبحانه وتعالى serta semakin tambah tawadhu’ kepada sesama.
Saudaraku yang budiman
rohimaniyallohu wa iyyakum. Demikianlah pertemuan kita kali ini, tentang orang
yang paling dekat dekat dengan Nabi صلى الله عليه وسلم di hari qiyamat. Insya Alloh kita akan
berjumpa kembali dalam edisi dan kesempatan berikutnya. Semoga Alloh سبحانه وتعالى memberikan taufiq kepada kita semua untuk memiliki
akhlak yang mulia dan amal yang baik, dan semoga Alloh عزوجل
menjauhkan kita dari akhlak-akhlak yang buruk dan amal-amal yang jelek,
sesungguhnya Dia Maha dermawan lagi Maha mulia . والله ولي التوفيق . نَسْأَلُ
اللهَ أَنْ يَرْزُقَنَاوَإِيَّاكُمْ الْعِلْمَ النَّافِعَ وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ
والسلام
عليكم ورحمة الله وبركاته
Saudaraku yang
budiman a’azzaniyallohu wa iyyaakum. Kembali kita berjumpa dalam rubrik
percikan Iman. Kali ini kita akan mempelajari bersama mengenai Satu-Satunya
Pencipta alam jagat raya beserta isinya.
Saudaraku yang budiman, Alloh تعالى
menciptakan manusia dengan fitroh mengakui serta mengetahui Robb, yakni
pengatur, pengurus dan penguasa alam semesta beserta isinya. Demikian juga
Alloh تعالى
menciptakan semua makhluk dalam keadaan fithroh terhadap Robb, pencipta,
pengurus dan penguasa semesta alam beserta isinya. Bahkan orang-orang musyrik
yang menyukutukan Alloh dalam ibadah dan ketaatan atau kepatuhan, juga mengakui
keesaan Alloh dalam hal pencitaan, pengaturan dan kekuasaan. Mari kita simak
firman Alloh تعالى dalam suratAl-Mu’minun ayat 86 - 89:
ö@è% `tB >§‘ ÏNºuq»yJ¡¡9$# Æìö7¡¡9$# >u‘ur ĸöyèø9$# ËLìÏàyèø9$# ÇÑÏÈ šcqä9qà)u‹y™ ¬! 4 ö@è% Ÿxsùr& šcqà)Gs? ÇÑÐÈ ö@è% .`tB ¾Ínωu‹Î ßNqä3w=tB Èe@à2 &äóÓx« uqèdur çŽÅgä† Ÿwur â‘$pgä† Ïmø‹n=tã cÎ) óOçFZä. tbqçHs>÷ès? ÇÑÑÈ šcqä9qà)u‹y™ ¬! 4 ö@è% 4’¯Tr'sù šcrãysó¡è@ ÇÑÒÈ
“Katakanlah: "Siapakah yang
Empunya langit yang tujuh dan yang Empunya 'Arsy yang besar?" Mereka akan
menjawab: "Kepunyaan Alloh. " Katakanlah: "Maka apakah kamu
tidak bertakwa?" Katakanlah: "Siapakah yang di tangan-Nya berada
kekuasaan atas segala sesuatu sedang dia melindungi, tetapi tidak ada yang
dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?" Mereka akan
menjawab: "Kepunyaan Alloh. " Katakanlah: "(Kalau demikian),
maka dari jalan manakah kamu ditipu?"
Saudaraku yang budiman, dalam ini,
kita ketahui bahwa orang kafir sekalipun ketika ditanya tentang siapa pemilik
langit dan ‘arsy. Maka mereka yakni orang kafir menjawab: pemilik langit dan
‘arsy adalah Alloh سبحانه وتعالى . Nah saudaraku, kenapa mereka
dikatakan kafir, padahal mereka mengakui bahwa Alloh-lah pemilik, penguasa dan
pengatur alam semesta. Hal ini dikarenakan mereka tidak menjunjung tinggi dan
tidak mematuhi aturan hukum dan undang-undang yang ditetapkan Alloh dan
rosul-Nya.
Saudaraku yang budiman, di zaman
sekarang tidak sedikit manusia yang mempercayai bahwa penguasa atau pengatur
adalah makhluk ghoib, seperti jin, malaikat atau nyi roro kidul. Mereka
menampakkan keingkarannya dikarenan kesombongan, atau karena fithro mereka
telah dirusak iblis atau syaithon la’natulloh ‘alaihim.
Nah saudaraku, sungguh sangat
memprihatinkan, tidak sedikit juga orang yang mengaku Islam, akan tetapi mereka
mempercayai ada makhluk ghoib sebagai penguasa gunung, penjaga laut. Atau
mengatakan ada pohon atau batu kramat yang bisa mendatangkan manfaat dan
mudhorot. Demikian juga ada yang mengatakan penguasa atau penjaga laut selatan
adalah nyi roro kidul. Padahal perkataan dan kepercayaan seperti ini adalah
kesyirikan yang menjerumusskan pada neraka dan kekal di dalamnya. Na’udzu
billahi min dzalik.
Saudaraku yang budiman, setelah kita
mengetahui bahwa satu-satunya pencita, pengatur dan penguasa alam semeta isinya
adalah hanya Alloh تعالى , selanjutnya kita akan mempelajari
tentang tauhid rububiyyah. Saudaraku, arti tauhid adalah pengesaan. Adapun
rububiyyah berasal dari Robb, yang memiliki arti pencipta, pengatur dan
penguasa. Jadi Tauhid ar-rububiyah adalah
pengesaan dan pensucian Alloh سبحانه
وتعالى
dalam kekuasaan dan perbuatan-perbuatan-Nya. Tiada sekutu
bagi-Nya. Dalam surat Al-A’rof ayat ayat 54, Alloh تعالى berfirman:
Ÿwr& ã&s! ß,ù=sƒø:$# âöDF{$#ur 3 x8u‘$t6s? ª!$# >u‘ tûüÏHs>»yèø9$#
“Ingatlah,
menciptakan dan memerintah hanya hak Alloh. Maha suci Alloh, Rabb semesta alam.
” [
ãNà6Ï9ºsŒ ª!$# öNä3šu‘ çms9 Ûù=ßJø9$# 4 tûïÏ%©!$#ur šcqããô‰s? `ÏB ¾ÏmÏRrߊ $tB šcqä3Î=÷Ktƒ `ÏB AŽÏJôÜÏ%
“Yang (berbuat) demikian itulah Alloh Rabb kalian,
kepunyaan-Nya-lah kerajaan.
Dan orang-orang yang kalian seru (ibadahi) selain Alloh tidak mem-punyai
apa-apa walaupun setipis kulit ari. “ [QS. Faathir (35): 13]
Berikut ini adalah kandungan tauhid rububiyyah
Termasuk dalam kandungan tauhid rububiyyah, bahwa hanya
Alloh-lah Pencipta alam semesta dan semua
yang ada di dalamnya. Hanya Alloh- lah Pemberi dan Pencegah, Penghidup dan Pemati, Pengada dan Peniada. Tiada
sekutu bagi-Nya.
߉ôJptø:$# ¬! “Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚö‘F{$#ur Ÿ@yèy_ur ÏM»uHä>—à9$# u‘q‘Z9$#ur ( ¢OèO tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. öNÍkÍh5tÎ šcqä9ω÷ètƒ
“Segala puji bagi Alloh Yang telah menciptakan
langit dan bumi, dan meng-adakan gelap dan
terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan Robb mereka. ”
Surat al-An`aam ayat 1.
Dalam surat
Aali ‘Imron ayat 26-27, Alloh تعالى berfirman:
È@è% ¢Oßg¯=9$# y7Î=»tB Å7ù=ßJø9$# ’ÎA÷sè? šù=ßJø9$# `tB âä!$t±n@ äíÍ”\s?ur šù=ßJø9$# `£JÏB âä!$t±n@ –“Ïèè?ur `tB âä!$t±n@ ‘AÉ‹è?ur `tB âä!$t±n@ ( x8ωuŠÎ çŽöy‚ø9$# ( y7¨RÎ) 4’n?tã Èe@ä. &äóÓx« փωs% ÇËÏÈ ßkÏ9qè? Ÿ@øŠ©9$# ’Îû Í‘$yg¨Y9$# ßkÏ9qè?ur u‘$yg¨Y9$# ’Îû È@øŠ©9$# ( ßlÌ÷‚è?ur ¢‘yÛø9$# šÆÏB ÏMÍh‹yJø9$# ßlÌ÷‚è?ur |MÍh‹yJø9$# z`ÏB Çc‘yÛø9$# ( ä-ã—ös?ur `tB âä!$t±n@ ÎŽötóÎ 5>$|¡Ïm ÇËÐÈ
“Katakanlah: “Wahai Ilah Yang hanya Dia-lah pemilik
seluruh kerajaan, Engkau berikan
kerajaan (kekuasaan) kepada orang yang Engkau kehendaki Engkau cabut
kerajaan (kekuasaan) dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau mu-liakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang kepada malam. Engkau
keluarkan yang hidup dari yang mati, dan
Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezki siapa
yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)”.
Demikian juga termasuk kandungan tauhid rububiyyah adalah, bahwa Alloh عزوجل adalah
Penguasa tertinggi, kekuasaan-Nya tidak ada batasnya, dan tidak ada kekuasaan yang
menandingi-Nya. Semua makhluk berada dalam
genggaman kekuasaan Alloh تعالى . Semua yang
ikehendaki-Nya pasti terjadi, dan semua yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan
pernah terjadi. Tidak ada keinginan lain yang
bisa terlaksana bila bertentangan dengan
keinginan-Nya. Tidak ada yang bisa
mencegah-Nya dari berbuat apa pun juga. Alloh تعالى berfirman:
ô‰s)©9 txÿŸ2 šúïÏ%©!$# (#þqä9$s% ¨bÎ) ©!$# uqèd ßxŠÅ¡yJø9$# ßûøó$# zNtƒótB 4 ö@è% `yJsù ÛÎ=ôJtƒ z`ÏB «!$# $º«ø‹x© ïcÎ) yŠ#u‘r& br& šÎ=ôgムyx‹Å¡yJø9$# šÆö$# zNtƒötB ¼çm¨Bé&ur ÆtBur ’Îû ÇÚö‘F{$# $YèŠÏHsd 3 ¬!ur Ûù=ãB ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur $tBur $yJßguZ÷t 4 ß,è=øƒs† $tB âä!$t±o„ 4 ª!$#ur 4’n?tã Èe@ä. &äóÓx« փωs%
“Sesungguhnya
telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Alloh
itu adalah al-Masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangikehendak Alloh, jika Dia hendak membina-sakan al-Masih
putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang berada di bumi
semuanya”. Kepunyaan Alloh kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang
dikendaki-Nya. Dan Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu. ” [QS.
al-Maa’idah (5): 17]
Saudaraku yang budiman, jadi
Pencipta, pengatur dan penguasa semua makhluk hanya Alloh saja. Yang menurunkan
hujan dan menahannya, menjaga gunung, laut, daratan, dan lain sebagainya yang
berkaitan dengan pencipta, pengatur dan penguasa, maka itu semua hanya Alloh سبحانه وتعالى . Oleh karena itu, jika barangsiapa yang mengatakan
penjaga gunung, laut atau yang lainnya adalah makhluk halus atau malaikat atau
yang lainnya selain Alloh تعالى , maka dia telah membuat kesyirikan. Na’udzu
billahi min dzalik.
Demikianlah pembelajaran kita kali
ini. نَسْأَلُ اللهَ أَنْ
يَرْزُقَنَاوَإِيَّاكُمْ الْعِلْمَ النَّافِعَ وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ
والله ولي التوفيق
Tidak ada komentar:
Posting Komentar