‘Azzam [Tekad]
Azam (tekad) itu ada dua macam:
- Azam orang yang hendak memulai
perjalanan dan ini merupakan permulaan.
- Azam orang yang sedang
mengadakan perjalanan, dan inilah kedudukan yang diinginkan pengarang Manazilus-Sa’irin,
yang maksudnya adalah usaha mewujudkan tujuan dalam keadaan senang atau
tidak senang, dalam keadaan suka atau terpaksa.
Ada tiga derajat azam, yaiut:
1. Menyesuaikan keadaan dengan petunjuk
ilmu, karena sudah melihat pengungkapan dan cahaya serta keinginan untuk
mematikan hawa nafsu.
Setiap keadaan yang tidak mengikuti
ilmu adalah keadaan yang rusak dan jauh dari Allah, tapi bukan berarti orang
yang sudah memiliki ilmu tidak bisaturuntingkatannya. Orang yang memiliki suatu
keadaan tidak mau menoleh ke ilmu, maka dia adalah batil. Ilmu merupakan syarat
untuk suatu keadaan, yang kesehatannya tidak bisa diketahui kecuali dengan
ilmu. Jika jalan yang ada di hadapannya sudah terungkap dan tersibak, berarti
sudah ada cahaya yang menerangi. Jika jalan sudah tersibak, maka orang yang
mengadakan perjalanan layaknya orang yang akan mati, sehingga di antara mereka
ada yang terjerembab ke tanah dan mengira dia sudah mati. Jika sudah begitu
keadaannya, maka dia akan segera bangkit, karena tabiat manusia ditetapkan
untuk tidak menyukai kematian. Jika tekad sudah bulat,maka hawa nafsu akan mati
dan tidak dipedulikan.
2. Tenggelam dalam kesaksiannya,
mencari cahaya yang menyinari jalan dan menghimpun kekuatan istiqamah.
Tenggelam dalam kesaksian artinya
menyibukkan diri dengan perjalanannya dan tidak peduli dengan hal-hal
selainnya. Mencari cahaya yang menyinari jalan artinya memperlihatkan
kesungguhan dan berusaha meraih apa yang dituju. Hal ini seperti orang yang
berjalan menuju suatu kota. Jika kota itu sudah terlihat dari kejauhan, berarti
dia sudah melihat jalan yang menghantarkannya ke kota tersebut dan cahaya-nya
menjadi terang. Sebelum dia melihat kota itu, boleh jadi dia membayangkan kota
itu tidak akan tercapai. Tapi kini dia tidak akan kehilangan pintu kota itu.
Kekuatan zhahir dan batinnya serta tekadnya harus terhimpun, apalagi jika dia
sudah melihat tujuannya.
3. Mengetahui penghalang azam dan
membebaskan diri dari beban yang membuatnya meninggalkan azam. Sebab azam
tidak mewariskan kepada pelakunya sesuatu yang lebih mulia daripada
mengetahui penghalang azam.
Penghalang azam adalah hal-hal
yang dinisbatkan kepada nafsunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar